1. Nama Desa : Desa Kawunglarang
2. Keadaan Sosial dan Budaya
Desa Kawunglarang merupakan sebuah desa yang masih memegang teguh nilai-nilai kebersamaan dan tradisi leluhur. Salah satu ciri utama kehidupan sosial masyarakatnya adalah semangat gotong royong yang tetap hidup dan terjaga. Masyarakat saling membantu dalam berbagai kegiatan, mulai dari pekerjaan umum hingga acara adat, sehingga tercipta hubungan sosial yang erat dan harmonis antarsesama warga.
Aktivitas keagamaan juga menjadi bagian penting dalam kehidupan sehari-hari. Kegiatan pengajian lingkungan dilaksanakan setiap minggu, memberikan ruang bagi warga untuk memperdalam ilmu agama sekaligus memperkuat hubungan sosial. Selain itu, pengajian tingkat desa (BKMM) diadakan setiap bulan sebagai bentuk konsolidasi spiritual yang lebih luas. Rutinitas jumsih (jumat bersih) juga menjadi agenda mingguan yang melibatkan seluruh lapisan masyarakat dalam menjaga kebersihan dan keasrian desa.
Tradisi seperti tahlilan dan hajatan perkawinan tetap lestari sebagai bagian dari budaya setempat. Acara-acara tersebut tidak hanya menjadi momen penting bagi keluarga yang mengadakan, tetapi juga menjadi wadah berkumpulnya warga, mempererat silaturahmi, dan memperkuat nilai-nilai sosial.
Dalam bidang seni, Kawunglarang memiliki kekayaan budaya bernuansa Islami. Kesenian hadroh, qosidah, dan rebana masih aktif dilestarikan oleh masyarakat. Kelompok-kelompok seni ini sering tampil dalam berbagai acara desa, baik yang bersifat keagamaan maupun sosial, sehingga menjadi identitas budaya yang khas dan membanggakan bagi warga.
Melalui keharmonisan sosial, kegiatan keagamaan yang rutin, serta pelestarian seni tradisional Islami, Desa Kawunglarang menunjukkan bahwa nilai budaya dan kebersamaan masih sangat kuat dan menjadi dasar kehidupan masyarakatnya hingga kini.
3. Potensi Pengembangan Sosial Budaya
Desa Kawunglarang memiliki potensi sosial budaya yang kaya dan beragam, menjadi modal penting untuk mendorong kemajuan desa. Dalam bidang kesenian, masyarakat memiliki kelompok hadroh dan rebana yang masih aktif dan terjaga kelestariannya. Kesenian bernuansa Islami ini tidak hanya menjadi identitas budaya desa, tetapi juga berpotensi dikembangkan sebagai daya tarik pertunjukan dalam berbagai acara desa maupun kegiatan wisata.
Selain kesenian, Kawunglarang juga memiliki potensi kuliner unggulan, yaitu Saroja dan Abon Ayam Sehati. Kedua produk ini telah dikenal sebagai makanan khas desa yang memiliki nilai ekonomis dan peluang besar untuk dikembangkan sebagai produk UMKM unggulan. Dengan pengemasan modern dan pemasaran yang lebih luas, Saroja dan Abon Ayam Sehati berpeluang menjadi ikon kuliner yang meningkatkan pendapatan masyarakat.
Di bidang pariwisata, Puncak Oto menjadi salah satu aset alam yang saat ini tengah dikembangkan. Keindahan panorama yang ditawarkan menjadikan lokasi ini prospektif sebagai destinasi wisata unggulan desa. Pengembangan fasilitas, akses, serta promosi yang tepat dapat menjadikan Puncak Oto sebagai magnet wisata dan membuka peluang usaha baru bagi warga.
Melalui penguatan kesenian lokal, pemberdayaan produk kuliner khas, dan pengembangan destinasi wisata, Desa Kawunglarang memiliki peluang besar untuk tumbuh sebagai desa yang berdaya saing, sekaligus menjaga kekayaan sosial budaya yang menjadi identitasnya.